malanora 3

Mala bingung lagi. Ia tak habis mengerti, mengapa konsep suami tiba-tiba muncul dalam ekspresi perempuan idiot yang terlambat dewasa itu. Tetapi, kenapa ketika benar-benar dibutuhkan, ia sama sekali tidak mengenalinya. Apa itu juga semacam sandiwara. Siapa sebenarnya yang paling lihai bersandiwara. Orang-orang pinter seperti Profesor Kunt, selebriti kayak Dori, para praktisi seperti Adam, atau Nora yang dibahasakan oleh media sebagai orang awam. Siapa sebenarnya yang sudah menjajah, orang bodoh atau orang pinter? Siapa sebenarnya yang sudah memanipulasi, menindas, benarkah para penguasa yang memegang kekuasaan atau para oposan dan rakyat jelata?

Rakyat selama ini selalu dianggap sebagai pihak yang dikorbankan, yang dilukai, yang disembelih. Tak mungkinkan kejadiannya sebenarnya terbalik?

Orang awam, rakyat jelata, orang kecil yang sudah melakukan penindasan. Dengan segala kemiskinannya, mereka melihat kekayaan, kemakmuran, kemapanan dan kekuasaan adalah gunung batu bangsat yang harus dihancurleburkan.

Tak peduli kekuasaan itu adalah kepalan tangan mereka sendiri yang diupayakan mengepal dengan sangat sulit. Karena kemalasan memang sudah ditanamkan oleh penjajahan, membuat mereka hanya menjadi mesin penelan. Tak peduli kekuasaan dikendalikan oleh nabi-nabi yang suci, meskipun nabi yang paling sucipun sering bermetamorfose menjadi mesin kekejaman ketika sudah memegang kekuasaan.

Anarkisme sudah menjadi umpatan bagi segala bentuk pengrusakan sewenang-wenang. Tetapi, kesewenang-wenangan atas nama rakyat selalu lupa diabsen. Banyak sekali dalang dan penulis lakon yang sudah memeprgunakan topeng rakyat, karena memang topeng itu dahsyat. Tak terjamah berhala hukum. Rakyat sudah menjadi berhala. Kemiskinan sudah menjadi bom nuklir. Ketidakadilan, ketidakbenaran dan kemanusiaan menjadi peralatan tempur yang dipergunakan oleh semua pihak. Dan, remukannya kembali ditanggung rakyat.

Ini anarkisme bentuk lain yang selalu diampuni. Kesewenang-wenangan rakyat yang mempergunakan posisinya untuk menyembelih kekuasaan, tiba-tiba menjadi sah untuk membenarkan semua kebrutalan.

Apakah kekuasaan itu sebuah dosa? Kalau begitu Tuhan Yang Maha Kuasa itu juga penuh dosa. Karena Dialah Pemegang Kekuasaan Tertinggi.

~ oleh filicium pada Februari 22, 2008.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.