malanora 1

Beberapa tahun lalu, ada sebuah diskusi di Berlin Barat, bertempat di Konsulat Indonesia. Seorang ahli tentang masyarakat Jawa diundang dari Belanda untuk bicara tentang orang Jawa. Seorang mahasiswa waktu itu mendebat :”Saya tak percaya bahwa orang Jawa itu masih ada sekarang persis seperti apa yang ada di kepala orang tentang orang Jawa pada tahun 1950-an. Karena banyak orang Jawa yang sudah tidak Jawa lagi, setelah mereka mengembara ke pulau-pulau lain dan berintegrasi dengan budaya setempat. Sebaliknya, begitu banyak orang luar Jawa yang tinggal di Jawa dan secara perlahan-lahan menjadi orang Jawa secara budaya. Saya kenal benar seorang lelaki Batak, namanya Maruli Sitompul, yang halusnya bukan main, yang Jawa-nya bukan main. Ia secara etnik adalah orang Batak, tetapi secara kultural, sebagai manusia, ia adalah orang Jawa. Jadi, berbicara tentang orang Jawa sekarang sebenarnya berbicara tentang banyak kelompok etnik yang sudah menjadi orang Jawa. Sebaliknya, berbicara tentang kelompok etnik, kita harus berhati-hati karena seringkali akar etnik tidak langsung menunjuk pada budaya etnik.

Saya sendiri disebut disebut orang Jawa, karena saya lahir di Jawa. Orang tua saya orang Jawa, tapi saya besar di Jakarta. Saya tak pernah merasa diri saya sebagai orang Jawa. Saya bukan Jawa, bukan Jawa Barat, tapi juga bukan Jakarta. Saya merasa orang Indonesia. Ini bukan patriotisme, bukan. Sama seperti orang-orang Indo dulu. Secara psikologis mereka bingung, apakah mereka orang Indonesia atau orang Belanda. Saya juga mengalami suasana kejiwaan semacam itu. Saya bukan bagian dari kelompk etnik lagi, juga bukan bagian dari kelompok menurut geografis tempat saya tinggal. Tapi, saya tak menolak sama sekali menyebutkan diri saya orang Indonesia yang merangkum unsur etnis maupun geografis itu. Dan saya yakin saya tidak sendirian. Mungkin ribuan, atau puluhan ribu. Bisa jadi berjuta-juta. Dan saya yakin akan menjadi perasaan yang merata dalam waktu-waktu yang akan datang. Dalam dua generasi yang akan datang mungkin semua orang akan seperti saya. Tapi, ini mungkin hanya harapan saya sebagai orang Indonesia, dan itu Anda boleh ragukan sebagai patriotisme tok!”

Dulu, ia menganggapnya cuma kata-kata simpang siur. Apa artinya orang Jawa atau bukan orang Jawa. Apa artinya orang Batak atau bukan orang Batak. Kebutuhan paling riil adalah pendidikan yang baik, standar hidup yang baik, dan kepastian hukum. Seperti orang-orang lain, ia memuja demokrasi. Itu adalah awalnya, segalanya. Dengan demokrasi semuanya akan terjawab.Kini dengan sesama orang yang sepakat tentang demokrasi, belum tentu ada kesepakatan. Sama-sama percaya pada demokrasi, banyak orang yang mungkin punya pandangan yang lain tentang kehidupan dan bagaimana negeri mesti diatur. Lalu ia berpikir barangkali kerinduan pada demokrasi telah menolong orang untuk melupakan perbedaan pandangan sebenarnya yang sangat besar dan mungkin sama sekali amat berbahaya.

Kerinduan yang meredam. Kerinduan sebagai senjata.

“Keadaan rindu, keadaan belum sampai, dengan demikian jadi positif. Ia mengapungkan bahaya yang sebenarnya. Hanya masalahnya, apakah bahaya yang diapungkan itu, bahaya yang ditunda itu, kemudian akan melemah, lalu hilang atau kadaluwarsa, atau sebaliknya justru makin mengendap dan memantapkan diri untuk pada akhirnya nomplok telak seperti air bah”

Ia sendiri tidak tahu. Ia tidak berani membayangkan. Ia tidak sanggup memikul pertanyaan sebesar itu, walaupun sebenarnya ingin. Ia benar-benar agak malu, karena justru berbarengan dengan pertanyaan besar itu, masalah-masalah tetek-bengek seperti kasus Nora sudah begitu mengganggunya.

Ia kepingin memikul sesuatu yang lebih besar. Ia ingin jadi orang besar. Tetapi, kenapa yang berkutat di sekitarnya hanya masalah-masalah baju kutang dan celana dalam. Pikirannya jadi semak-semak yang menyesatkan. Ia terjebak hanyut. Lalu tergelincir diseret oleh tidur. Ia ngorok keras, sehingga pintu ikut bergetar.

~ oleh filicium pada Februari 22, 2008.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.