malanora 1

•Februari 22, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Beberapa tahun lalu, ada sebuah diskusi di Berlin Barat, bertempat di Konsulat Indonesia. Seorang ahli tentang masyarakat Jawa diundang dari Belanda untuk bicara tentang orang Jawa. Seorang mahasiswa waktu itu mendebat :”Saya tak percaya bahwa orang Jawa itu masih ada sekarang persis seperti apa yang ada di kepala orang tentang orang Jawa pada tahun 1950-an. Karena banyak orang Jawa yang sudah tidak Jawa lagi, setelah mereka mengembara ke pulau-pulau lain dan berintegrasi dengan budaya setempat. Sebaliknya, begitu banyak orang luar Jawa yang tinggal di Jawa dan secara perlahan-lahan menjadi orang Jawa secara budaya. Saya kenal benar seorang lelaki Batak, namanya Maruli Sitompul, yang halusnya bukan main, yang Jawa-nya bukan main. Ia secara etnik adalah orang Batak, tetapi secara kultural, sebagai manusia, ia adalah orang Jawa. Jadi, berbicara tentang orang Jawa sekarang sebenarnya berbicara tentang banyak kelompok etnik yang sudah menjadi orang Jawa. Sebaliknya, berbicara tentang kelompok etnik, kita harus berhati-hati karena seringkali akar etnik tidak langsung menunjuk pada budaya etnik.

..monggo..

malanora 2

•Februari 22, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Meskipun dengan was-was, Nora mengikuti Pak Amin masuk. Mala mengangguk lagi untuk memberanikan wanita wanita itu. Ia tambah terharu. Beda dengan semua wanita yang dikenalnya, yang pongah , yang berani dan amat sadar pada haknya. Nora masih menyimpan kebersahajaan. Kerendahan hati dan tenggang rasa bahwa ia mungkin sekali akan melanggar hak orang lain. Itu buat Mala semacam kesadaran yang tinggi terhadap hak. Hak orang lain. Kesadaran yang seringkali lenyap pada wanita-wanita macam Dori.

Wanita seperti inikah yang kau cari, Boy?!

malanora 3

•Februari 22, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Mala bingung lagi. Ia tak habis mengerti, mengapa konsep suami tiba-tiba muncul dalam ekspresi perempuan idiot yang terlambat dewasa itu. Tetapi, kenapa ketika benar-benar dibutuhkan, ia sama sekali tidak mengenalinya. Apa itu juga semacam sandiwara. Siapa sebenarnya yang paling lihai bersandiwara. Orang-orang pinter seperti Profesor Kunt, selebriti kayak Dori, para praktisi seperti Adam, atau Nora yang dibahasakan oleh media sebagai orang awam. Siapa sebenarnya yang sudah menjajah, orang bodoh atau orang pinter? Siapa sebenarnya yang sudah memanipulasi, menindas, benarkah para penguasa yang memegang kekuasaan atau para oposan dan rakyat jelata?

..monggo..

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.